Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 4

Januari 20, 2009 pukul 11:26 pm | Ditulis dalam Fikih, Sholat | 1 Komentar

Langkah Ulama dalam Mengompromikan Antara Hadits-hadits Ini

Pertama, terdapat kontradiksi antara hadits yang melarang dan hadits yang membolehkan. Disebutkan dalam satu kaidah: apabila bertentangan antara yang melarang dan yang membolehkan, maka yang melarang itu didahulukan.

Kedua, perbuatan ini khusus untuk Nabi saw. Continue Reading Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 4…

Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 3

Januari 20, 2009 pukul 11:25 pm | Ditulis dalam Fikih, Sholat | 1 Komentar

Bolehkah Shalat Dzawatul Asbab Dilakukan Pada Waktu–waktu Terlarang?

Catatan: Dzawatul asbab: mempunyai sebab. Maksudnya shalat yang dikerjakan karena suatu sebab tertentu yang muncul.

Pendapat ulama yang benar adalah shalat-shalat yang mempunyai sebab itu boleh dikerjakan di waktu-waktu terlarang. Adapun shalat-shalat tersebut antara lain adalah :

1. Shalat-Shalat Yang Terlewatkan Waktunya

Shalat-shalat yang terlewatkan itu boleh dilakukan di waktu-waktu yang terlarang, berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau tertidur hingga shalat terlewatkan, maka kafarahnya (tebusannya) adalah dia harus mengerjakan shalat tersebut di saat ingat. Tidak ada kafarah selain itu.” Hadits ini diriwayatkan Muslim.

Juga berdasarkan sabda beliau saw, “Barangsiapa yang mendapatkan shalat Shubuh hanya satu raka’at saja sebelum matahari terbit, maka dia dihitung telah mendapatkan shalat Shubuh. Dan barangsiapa yang mendapatkan shalat Ashar satu raka’at saja sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar.” Hadits ini diriwayatkan Al-Al-Bukhari dan Muslim. Continue Reading Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 3…

Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 2

Januari 20, 2009 pukul 11:25 pm | Ditulis dalam Fikih, Sholat | Tinggalkan komentar

Waktu2 Terlarang Melakukan Shalat

Waktu-waktu dilarang melakukan shalat dapat diklasifikasikan menjadi lima waktu:

  1. Sesudah shalat Ashar hingga matahari menguning.
  2. Sesudah shalat Shubuh hingga matahari terbit.
  3. Menjelang shalat Dhuhur hingga matahari condong ke arah Barat (sekitar 10 menit sebelum waktu adzan Dhuhur).
  4. Mulai matahari berwarna kuning hingga tenggelamnya.
  5. Mulai matahari terbit hingga naik setinggi tombak (sekitar 10 mnt.)

Inilah waktu-waktu yang dilarang memulai shalat sunnah.

Kelima waktu tersebut dapat dikelompokkan lagi menjadi dua. Pertama, waktu muwassa’ah (waktu longgar), yaitu waktu sesudah shalat Shubuh dan sesudah shalat Ashar. Kedua, waktu mudlayyaqah (waktu sempit), yaitu waktu pada saat matahari terbit, terbenam, atau condong.

Pendapat yang benar adalah shalat yang mempunyai sebab itu boleh dilakukan pada waktu muwassa’ah saja, bukan pada waktu mudlayyaqah. Hal ini berdasarkan dalil dan alasan berikut. Continue Reading Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 2…

Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 1

Januari 20, 2009 pukul 11:24 pm | Ditulis dalam Fikih, Sholat | Tinggalkan komentar

Uraian Perbedaan Pendapat

Ibnu Al-Mulaqqin berkata, “Umat Islam telah bersepakat bahwasanya shalat yang dilaksanakan tanpa ada sebab adalah makruh (dibenci) untuk dilakukan pada waktu-waktu yang terlarang, dan mereka juga bersepakat bahwasanya pelaksanaan shalat yang terlewat waktunya pada waktu-waktu tersebut, hukumnya mubah (boleh).”

Mereka berbeda pendapat dalam hal pelaksanaan shalat nafilah (sunnah) yang mempunyai sebab, misalnya shalat Id (Hari Raya), shalat Jenazah, dan shalat-shalat sunnah yang terlewatkan waktunya (Al-I’lam bi Fawaid Umdatil Ahkam, jz. 2, hal. 310). Continue Reading Waktu Terlarang Untuk Sholat-bag. 1…

Isteri = Ukhti ?

Desember 24, 2008 pukul 11:40 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Assalamu ‘alaikum. Bolehkan memanggil istri dengan: “Hai adik” atau “Ya Ukhti”? (Akhuna Ar, Solo)

Jawab :

1. Permasalahannya adalah: apakah hal itu termasuk kebohongan? Sebab istri bukanlah adik, dan adik juga bukan istri.

2. Dalam hal ini bila kita menilik ayat: إنما المؤمنون إخوة.

“Sesungguhnya tiada lain kaum mukminin itu bersaudara.” (Q.S. al-Hujurat)

maka dapat kita simpulkan bahwa memanggil istri dengan sebutan ukhti tidaklah mengapa, sebab istri tersebut seagama/seiman. Dengan kata lain, istri adalah saudari dalam Islam; bukan saudari dalam nasab.

3. Namun bila kita menilik hadits riwayat Abu Dawud berikut:

أَنَّ رَجُلاً قَالَ ِلامْرَأَتِهِ يَا أُخَيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْتُكَ هِيَ فَكَرِهَ ذَلِكَ وَنَهَى عَنْهُ.

Bahwa seorang lelaki berkata kepada istrinya, “Hai adik perempuan/hai saudari kecil”, maka Rasulullah saw bersabda, “Apakah ia saudarimu?” Beliau membenci hal itu dan melarang darinya.

maka dapat kita katakan bahwa memanggil istri dengan “ukhti” tidak diperbolehkan.

4. Namun bila kita menilik sanad hadits di atas, kita dapatkan bahwa hadits ini sanadnya mudhtharib. Kemudhthariban sanad menyebabkan dha’ifnya sebuah hadits. Jadi hadits ini dha’if, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dalil. Wallahu A’lam. (Silakan baca lebih lanjut: ‘Aunul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud nomor 1889-1890)

5. Dengan demikian, silakan saja seseorang memanggil istrinya “ya ukhti”, sebab dia adalah saudarinya dalam Islam sebagaimana Kalam Alloh Swt “Sesungguhnya tiada lain kaum mukminin itu bersaudara.” Apalagi dengan adanya hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ [قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خ 4694.م 4371]: لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَم إِلاَّ ثَلاَثَ كَذَبَاتٍ ثِنْتَيْنِ مِنْهُنَّ فِي ذَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوْلُهُ { إِنِّي سَقِيمٌ } وَقَوْلُهُ { بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا } وَقَالَ بَيْنَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ وَسَارَةُ إِذْ أَتَى عَلَى جَبَّارٍ مِنْ الْجَبَابِرَةِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ هَا هُنَا رَجُلاً مَعَهُ امْرَأَةٌ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَسَأَلَهُ عَنْهَا فَقَالَ مَنْ هَذِهِ قَالَ أُخْتِي فَأَتَى سَارَةَ قَالَ يَا سَارَةُ لَيْسَ عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي فَلاَ تُكَذِّبِينِي. (خ 3108)

Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali tiga kali; dua darinya karena Dzat Alloh ‘Azza wa Jalla, yaitu perkataan beliau “Sesungguhnya aku sakit,” dan perkataan beliau “Bahkan si besar dari mereka (berhala-berhala) inilah yang melakukannya (perusakan berhala-berhala kecil). Dan ketika pada suatu hari beliau bersama Sarah (istri beliau), tiba-tiba beliau mendatangi (wilayah) seorang penguasa otoriter, maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya di sini ada seorang lelaki bersama seorang perempuan yang termasuk manusia paling cantik.” Maka penguasa mengutus kepada beliau lalu menanyai beliau mengenai perempuan itu, maka dia tanyakan, “Siapakah ini?” Beliau menjawab, “Saudariku.” Lalu beliau mendatangi Sarah seraya berkata, “Hai Sarah, tidak ada di atas muka bumi ini manusia beriman selain aku dan kamu, dan sesungguhnya orang tadi menyanyaiku, maka aku jawab bahwa kamu adalah saudariku, maka janganlah kamu dustakan ucapanku itu.” HR. Bukhari nomor 3108.

Semut Haram?

Desember 16, 2008 pukul 12:57 am | Ditulis dalam Tanya Jawab | Tinggalkan komentar

Assalamu ‘alaikum. Disebutkan dalam hadits bahwa hanya dua macam bangkai yang halal, yaitu bangkai ikan dan belalang. Kalau semut mati di dalam minuman, bolehkan diminum? (Akhuna Thalib, Jpl) Continue Reading Semut Haram?…

Maaliki=Maliki

Desember 16, 2008 pukul 12:47 am | Ditulis dalam Tanya Jawab | Tinggalkan komentar

Assalamu ‘alaikum. Di masjid Muhtadin Waringin Rejo sebagian imam membaca ayat ke-4 surah al-Fatihah: Maliki (ma: dibaca pendek), sedangkan mayoritas imam di Indonesia membaca Mâliki (mâ: panjang). Manakah yang benar? (Akhuna Mhq, Solo) Continue Reading Maaliki=Maliki…

Ngobrol sambil Buang Hajat

Desember 16, 2008 pukul 12:43 am | Ditulis dalam Tanya Jawab | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum. Benarkah tidak boleh berbicara ketika buang hajat? Konon haditsnya dha’if? Continue Reading Ngobrol sambil Buang Hajat…

Larangan Makan Tidak dari Tepi Piring

Desember 16, 2008 pukul 12:39 am | Ditulis dalam Tanya Jawab | Tinggalkan komentar

Assalamu ‘alaikum. Dalam kitab Nuzhatul Muttaqin syarah Riyadhus Shalihin disebutkan bahwa perintah mengambil makanan yang terdekat dengan kita itu diperkecualikan: bila makanan tersebut berupa buah-buahan. Apa maksudnya secara jelas & gamblang? (Akhuna Moch, Jpl) Continue Reading Larangan Makan Tidak dari Tepi Piring…

Isteri=Ukhti?

Desember 13, 2008 pukul 11:37 pm | Ditulis dalam Tanya Jawab | Tinggalkan komentar

Assalamu ‘alaikum. Bolehkan memanggil istri dengan: “Hai adik” atau “Ya Ukhti”? (Akhuna Ar, Solo) Continue Reading Isteri=Ukhti?…

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.